Kiat Mendidik Anak

Kiat Mendidik Anak
Share This Post

Anak merupakan amanat Allah. Kelak dihari kiamat, Allah akan meminta tanggung jawab kita, sesuai sabda Raulullah saw :

“Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggung jawaban keatas apa yang dipimpinnya”. (H.R. Bukhari).

Ibu ataupun ayah merupakan pemimpin bagi anak-anaknya. Dalam rumah, anak lebih banyak berinteraksi dengan orang tuanya sehingga amat wajar apabila orang tua masih menjadi faktor utama yang sangat memengaruhi anak. Oleh karena itu, peran dan pengaruh orang tua dalam menjalankan proses pendidikan haruslah benar dan tepat seperti yang telah diajarkan dalam syari’at Islam.

Sementara itu, sebagian orang tua beranggapan bahwa tugas mereka terhadap anak-anak hanya mengajarkan  kewajiban-kewajiban agama dan akhlak mulia tanpa perlu memperhatikan tehnik pengajarannya. Mereka kurang  memperhatikan bagaimana langkah yang harus ditempuh agar pengajaran itu bisa sampai dan tertanam dalam jiwa anak. Akibatnya, tidak sedikit yang gagal dalam mendidik anak.

Ada beberapa kiat yang bisa membantu dalam mendidik anak. Disamping itu, ada beberapa masalah yang perlu kita perhatikan, dan seyogianya masalah itu kita terapkan terhadap buah hati (anak) kita. Diantara kiat-kiat itu adalah sebagai berikut :

  1. Memohon kepada Allah keturunan yang shaleh, ini biasa dikerjakan oleh para nabi dan para rasul serta hamba-hamba Allah yang shaleh.
  2. Senang atas kedatangan (kelahiran) anak dan menghilangkan rasa ketidaksukaan (murka) disebabkan kelahiran mereka. Sebaiknya seorang muslim bergembira atas pemberian Allah, baik laki-laki maupun perempuan.
  3. Mendoakan kebaikan untuk anak-anak dan menjauhi mendoakan kecelakaan atas mereka. Jika anak-anak itu shaleh, doakanlah mereka agar tetap diberi keteguhan hati dan tambahan karunia. Tetapi, jika mereka tidak baik, doakanlah mereka agar mendapat petunjuk dan kelurusan (kebenaran).
  4. Memberi nama mereka dengan nama-nama yang baik. Sesuatu yang harus diperhatikan oleh orang tua adalah memberi nama anak-anak mereka dengan nama-nama yang Islami yang berbahasa Arab dan baik. Seperti sabda Rasulullah. Dari Abu Wahab Al-Jasymi, Rasululluah saw bersabda: “Namai anak kalian dengan nama para nabi, nama yang paling aku sukai adalah Abdullah dan Abdurrahman. Yang aku perbolehkan lagi sebagai nama adalah Harits dan Hummam, sedangkan nama yang paling jelek adalah Harb dan Murroh. (H.R. Abu Daud dan An Nasai, Jaami Al Ushul, jilid 1, hadits no. 358)”. Adapun nama-nama asing (latin) yang dipakai oleh bangsa-bangsa kafir, jelas nama-nama tersebut bertolak, baik menurut bahasa maupun syara’. Nama-nama latin itu seperti: Indara, Jeklin, Goli, Diana, Suzan, Vali, Victoria, Kloria, Lara, Linda, Maya, Manolia, Haidi, dan Yara.
  5. Peran penting seorang ibu dalam mendidik anak. Sebagaimana yang disebut dalam sebuah sair, bahwa “ibu adalah sebuah madrasah, apabila ia dipersiapkan, maka engkau telah menyiapkan masyarakat yang baik”. Maka hendaknya seorang ibu tidaklah memberikan tugas keibuannya kepada orang lain, karena cinta dan kasih sayang seorang ibu yang selalu memperlakukan anaknya dengan ketulusan, mengorbankan waktu istirahat dan tidurnya hanya untuk menjaga anaknya. Berbeda dengan orang lain (pembantu), karena bukan anaknya, anak bisa diperlakukan sesuai hatinya. Diberi apa saja, yang penting anak diam.
  6. Seorang ayah juga memiliki peran dalam mendidik anak-anaknya sebagaimana seorang ibu. Pengaruh ayah terhadap anaknya sangat kuat, terutama jika ikatan hati mereka terjalin dengan baik. Tetapi jika fungsi ayah tidak dijalankan, sehingga anak tidak dekat dengan ayahnya, maka anak hanya menemukan figur kebapakan dari lingkungan pergaulan diluar rumahnya. Banyak peluang dan kesempatan bagi seorang ayah untuk bisa bersama anak dan keluarganya. Tinggalkanlah sejenak agenda rutin Anda, ajaklah anak-anak Anda bermain, bercanda, bersenda gurau, atau bertamasya menikmati keindahan bumi Allah yang luas. Berikanlah kegembiraan dan keceriaan kepada mereka.
  7. Menanamkan keimanan dan akidah yang benar dalam diri anak-anak. Seperti ayah mengajari anak-anaknya semenjak masih kecil untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan menghafalnya diluar kepala. Selain itu, ayah hendaknya dapat menumbuhkan pada hati mereka rasa cinta kepada Allah Azza wa Jalla dan bahwa semua kenikmatan yang kita peroleh datang dari Allah semata.
  8. Memberikan teladan yang baik (uswah hasanah). Ini merupakan persoalan yang sangat penting. Untuk itu, seyogianya orang tua bisa menjadi panutan dan teladan bagi anak-anaknya dalam hal kejujuran, keistiqomahan, dan lain-lain, serta membuktikan ucapan dengan amalan. Salah satu perbuatan yang dipandang baik adalah orang tua mengerjakan shalat dihadapan anak-anaknya, apalagi jika anak berusia tiga tahun, anak Anda sudah bisa melihat apa yang dilakukan oleh orang tuanya, seperti melakukan shalat dan membaca Al-Qur’an. Oleh karena itu, anak seusia ini harus diikut sertakan dalam kegiatan shalat berjamaah di rumah. Ajaklah anak-anak duduk bersama, menyimak, dan mendengar bacaan Al-Qur’an ataupun doa-doa yang dibacakan oleh orang tuanya.
  9. Bersikap keras dalam mendidik. Cara kekerasan yang digunakan sebagai salah satu pendekatan, tetapi bukan satu-satunya pilihan. Apabila anak melakukan kesalahan cara ini hanyalah sebagai solusi terakhir. Pertama, mungkin dengan teguran, celaan, bentakan, muka masam, di boikot (tidak diajak bicara) dan seterusnya. Tetapi jangan lupa, setiap jenis hukuman yang diterapkan harus disertai penjelasan kenapa dia di hukum. Anak harus difahamkan kesalahannya dan bahaya yang akan terjadi dari kesalahan itu.
  10. Sikap lunak orang tua seperti memberikan kebebasan adalah salah satu metode pendidikan anak. Namun tetap harus ada batas-batasnya sesuai dengan prinsip akhlak dan nilai-nilai luhur. Pandangan moderat yang memberikan kebebasan terhadap anak adalah dengan memberikan kebebasan untuk anak dalam hal mengutarakan pendapat asalkan tidak melukai perasaan orang lain, ia bisa memilih kawan dari kalangan manapun asalkan berakhlak mulia dan berbudi pekerti. Disini orang tua memegang peranan utama untuk memberi bimbingan dan pengawasan.
  11. Menumbuhkan rasa disiplin secara proposional dan sesuai dengan kebutuhan. Mendisiplinkan anak dapat dilakukan sejak anak masih menyusu kepada ibunya. Hal ini bisa dilakukan melalui cara: pertama, seorang ibu harus menyusui anaknya pada waktu yang telah ditentukan. Jangan menyusui ketika anak Anda merengek atau menangis. Karena hal tersebut akan menghambat kedisiplinan pada anak. Kedua, memberikan sesuatu yang lebih kepada anaknya pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Pembiasaan ini bisa dilakukan setelah anak berumur beberapa bulan.
  12. Mengajari mereka perkara-perkara yang dipandang baik dan melatih mereka untuk mengamalkannya. Misalnya, menjawab doa orang yang bersin, menahan menguap, makan dengan tangan kanan, etika buang hajat, etika mengucapkan salam dan menjawabnya, etika menjawab salam lewat telepon, menemui tamu, dan lain-lain.
  13. Menjauhkan kemunkaran dan permainan yang merusak anak-anak. Wajib bagi orang tua melindungi anak-anaknya dari segala bentuk kemunkaran dan berusaha membersihkan rumahnya dari kemunkaran sehingga ia dapat menjaga keselamatan fitrah anak-anaknya, baik akidah maupun akhlak.
  14. Mengadakan alat-alat hiburan/permainan yang sesuai dengan anak-anak. Orang tua berkewajiban menjauhkan kemunkaran-kemunkaran maka sebagai gantinya mereka boleh menyediakan alat-alat permainan yang dapat menghimpun anatara hiburan dan kemanfaatan sehingga anak-anak itu mendapatkan sesuatu yang dapat menyibukkan mereka untuk mengisi waktu senggangnya tanpa kelelahan.
  15. Membiasakan mereka bangun di akhir malam karena pada saat itu merupakan waktu tertuangnya berbagai keuntungan dan pembagian-pembagian hadiah.
  16. Selalu merangsang mereka untuk pergi ke masjid dikala masih kecil dan mendorong mereka shalat di masjid dikala dewasa.
  17. Menumbuhkan sikap berani dalam jiwa anak. Caranya adalah dengan memberi pengertian atau kesadaran akan nilai keberanian itu dan menanamkan kepercayaan pada dirinya, sehingga anak itu hidup mulia, pemberani, terus terang mengungkapan pendapat-pendapatnya dalam batas-batas yang sopan dan wajar, jauh dari pendapat yang tidak bermutu dan permainan belaka.
  18. Meminta pendapat anak-anak. Meminta pendapat mereka mengenai sebagian persoalan yang berkaitan dengan rumah tangga atau lainnya.
  19. Membiasakan anak melaksanakan sebagian tanggung jawab, seperti mengawasi keluarga dikala kepala rumah tangga itu sedang pergi. Membiasakan anak mengelola uang belanja. Caranya ialah dengan memberikan kepada si anak uang belanja setiap bulan atau minggu agar untuk dipergunakan membiayai dirinya sendiri dan rumah tangga.
  20. Membiasakan anak-anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, yaitu dengan membiasakan mereka ikut berpartisipasi dalam berkhidmat kepada agama Islam, membantu saudara-saudara mereka kaum muslimin, baik melalui jihad dijalan Allah maupun berdakwah kepada Allah, membantu orang-orang terkena musibah dan di zhalimi, membantu orang-orang papa dan orang yang membutuhkan, bekerja sama dengan organisasi-organisasi sosial, dan sebagainya.
  21. Berlaku adil diantara mereka. Orang tua harus berlaku adil terhadap anak-anaknya dan hendaknya orang tua menghindari diri dari sikap mengistimewakan (menganakemaskan) sebagian mereka atas sebagian yang lain, baik mengenai masalah materi, maupun masalah spiritual.
  22. Memperhatikan pembicaraan anak-anak dan mengesankan kepada mereka betapa pentingnya pembicaraan mereka itu. Hal itu lebih baik dari pada berpaling dari pembicaraan mereka dan tidak mau mendengarkannya.
  23. Memilih sekolah yang tepat bagi anak-anaknya dan berusaha untuk memantau mereka disekolahnya.
  24. Menghadirkan keutamaan-keutamaan pendidikan di dunia dan di akhirat. Hal inilah yang dapat membantu orang tua untuk selalu sabar dan memikul segala resiko. Karena, apabila anak-anak menjadi baik, mereka justru sebagai penyejuk mata hati baginya didunia, bahkan sebagai penyebab bersambungnya pahala baginya sesudah ia meninggal dunia.

 

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter